Selasa, 13 November 2018

Fall for ________

akhirnya ku biarkan memori itu menari dipikiran ku.

memori tentang dia yang memberi tahu rahasia-rahasia kecilnya.
salah satunya adalah cerita kalau dirinya pernah cek persyaratan astrounot dan standar nilai matematika yang tinggi membuatnya menyerah

atau saat ia mengumpat tentang umurku
itu memang bukan rahasia, itu menjengkelkan, tapi kenapa aku suka?

atau tentang film yang kita bicarakan

aku paling benci bau rokok. tapi saat tangannya di sampingku dan bau itu tercium, malah aku senang.
ada yang salah di otakku. cuma dia yang bisa buat begitu.

aku ulang berkali-kali
semua terekam dan membuat hatiku hangat

tentang luka ditangan kanan yang ia dapat dari kucingnya
tentang lagu yang kita putar

taukah dia setiap pagi wajahnya yang ada di saat aku bangun?

aku. jatuh.
lagi?

kali ini ku pastikan dia tidak tahu. tidak seperti aku biasanya, huh? :))

ku biarkan jatuh, karena waktu akan menghapus rasa yang sia-sia ini.

tapi kupastikan dia tidak mengantarku pulang, untuk yang ketiga kalinya.

Share:

Kamis, 30 Agustus 2018

Usang

Hari ini Jakarta sedang panas-panasnya. Gak nyangka bakal nulis keluhan tentang Jakarta lagi. Memang sih udah jadi impian dari dulu untuk balik lagi tinggal di kota ini, kirain semua impian saya gak bisa terkabul. Kayak memilikimu contohnya. Tapi ternyata di sinilah saya. Mengeluh tentang panasnya Jakarta, lelah karena peperangan di dalam commuter line gerbong wanita. Kenapa saya sebut peperangan? karena memang seperti sedang perang!

Ah..gerbong wanita.

kalau naik kreta di bukan jam orang berangkat kerja atau pun sebaliknya, cummuter line atau kereta listrik akan terasa seperti di luar negri. Tapi, kalau di jam kerja, semua orang di dalam gerbong akan terlihat seperti ikan pindang. Maka dari itu saya memilih gerbong wanita agar tidak berdempetan dengan lelaki. Tapi ternyata yang berpikir sama dengan saya tentu banyak pula. Jadilah gerbong wanita lebih mengerikan penuhnya daripada gerbong biasa. Saya sempat berpikir apa ada yang pernah kehabisan nafas dalam situasi seperti ini.

Yah memang kalau dipikir-pikir, Jakarta sudah tua, sudah usang, sama seperti saya.

Akhirnya baru ini terasa dalam diri. Kalau memang saya sudah tidak muda lagi. Langit Jakarta kini sering berwarna abu-abu seperti enggan ceria. Yang belakangan saya tau ternyata itu polusi. Dulu katakanlah tahun 1999. Belum ada polusi semengerikan seperti sekarang.

Sama saya juga penuh polusi. Semakin dewasa semakin banyak khawatir yang menjadi polusi dalam diri. Sehingga sulit untuk ceria seperti langit berwarna biru putih.

Kalau dilihat Jakarta juga semakin sendirian. Walau orang bertambah, tapi yang peduli dengan keindahannya hanya sedikit. Makin banyak orang malah makin banyak juga yang buang sampah sembarangan. Makin banyak pula lahan hijau yang dihapus untuk bangunan.

Jakarta, kamu gak sendiri.
saya juga.

Saya juga bisa merasakan semua.
Satu hal sih yang berbeda dari kita.

Tidak ada yang menulis tentang saya.
Tidak seperti dulu.

Share:

Senin, 28 Mei 2018

Cara Hemat Ke IKEA Alam Sutra dengan Kendaraan Umum


Hari Minggu tepatnya tanggal 27 Mei kemarin, saya dan seorang anak absurd kesayangan berencana ke ikea dengan nekat. Yang saya maksud nekat adalah kita gak punya kendaraan pribadi dan belum pernah ke sana sebelumnya pakai kendaraan umum. 

Browsing-browsing, akhirnya dapet yang katanya ke Stasiun Serpong dulu, baru naik angkot, baru naik shuttle bus-nya sana. Oke. Udah fix ngikutin rencana itu, saya mandi dan berangkat. Dari Fatmawati saya naik gojek ke Stasiun Kebayoran Lama bayarnya Rp 8000. Udah sampe stasiun, tiba-tiba anak absurd kesayangan itu ngechat gini.


Jadilah saya yang banting stir dari Stasiun Kebayoran-Serpong ke Stasiun Kebayoran-Tangerang. Memang pas saya cek ternyata harga gocarnya lumayan murah. Sebenarnya si dia ngajakin naik grab dengan potongan diskonnya, tapi hari itu mendung jadi ambil pait-paitnya ujan, kita ambil gocar aja. Sampe Stasiun Tangerang, ongkos saya memperlihatkan angka Rp 4000. Dan untungnya kita memilih car, karena beneran ujan.


Bandingin Go Car sama Grab Car akhirnya kita pilih Grab Car yang waktu itu lebih murah sekitar 5 ribu :))

Terus sampai sana jadinya lebih cepet sih. Coba kalau ikutin yang ke Stasiun Serpong dulu, trus oper angkot, trus oper lagi shuttle bus. Selain lebih lama, kayaknya biayanya juga lebih mahal. Karena bayar angkot dan shuttle bus.

Kalau lewat Stasiun Tangerang Jadi total perjalanan saya sendiri, 8000+4000+18000 = Rp 30000!
lumayanlah yaa hehehe..

Terima kasih untuk keabsurdan kesayangan aku. Tanpa dia kita bisa nyampe malem di IKEA, karena berangkatnya aja udah jam 12 lewat. Mendadak-mendadak gitu sih ngasih taunya, ngeselin, tapi berjasa juga heheh. Apalah aku tanpamu 😘

Lanjut..

Sampai sana jam 3 sore. Perut keroncongan, akhirnya kita makan makanan sana yang katanya murah-murah itu. 




kita pesen Opor Ayam (yang ayamnya gede banget) (disinyalir ayam mutan) sama Fish n Chips. Opor Ayam Rp 40.000, Fish and Chips Rp 50.000 (harga udah termasuk pajak) sama sosis yang gede itu Rp 10.000

Komentar soal makanannya
-Opor Ayam: bumbu kuahnya enak banget suka! ayamnya kegedean sih untuk porsi cewe. Tapi akhirnya abis juga. 
-Fish n Chips: mayo nya enak! gue abis sih itu segitu. Tapi gue pernah makan fish n chips sebelumnya pasti eneg. Dan kmaren juga gitu pas udah mau abis baru eneg. Apa ikannya kegedean dan gak pake nasi? (maap perut kampung)
-Sosis: Enak. Ada item-itemnya itu lada hitam gitu di dalem dagingnya.

Oiya kita beli teh, tapi bingung ngambil tehnya di mana. Kalo kopi ada di mesinnya gabung sama soft drink. Ternyata tehnya ngambil di kasir ya gaes. Lipton tea, trus baru diseduh sendiri pake aer panas. 

Udah selesai makan terus kita keliling. Ini sebenernya yang kedua kali buat saya, tapi yang pertama kali bareng sama kakak sepupu naik mobil. Jadi udah gak terlalu kaget dengan kekerenan ikea. Tapi tetep sih bikin teringat 500 Days of Summer. Sedangkan untuk si dia ini yang pertama kali. Maklum dulu kita tinggal di Malang waktu ikea masih hits pertamanya buka. 



Kalau disuruh milih Museum Macan, sama ini, kita berdua pilih ini sih. Seneng aja gitu liat perabot-perabot rumah tangga dan bandingin harganya sana sini. Apalagi boleh ditidurin, dudukin, beda banget sama in**ma dan ac*. 

Kesimpulan dari jalan-jalan di sana adalah harus nabung tiap hari :))) karena perabotan rumah yang unyu-unyu harganya gak unyu. Buat kamu yang pingin main ke tempat ini dan mau naik kendaraan umum, itu aja sih, kalau naik kereta mending turun Tangerang daripada Serpong. 

Sipp.

Piss laff and gaul~
Share:

Jumat, 06 April 2018

Ganti Tahun Ganti Tempat tinggal

Ini adalah postingan pertama di tahun ini. Selamat Tahun Baruuu! *kemudian dipentung* *udah mau pertengahan tahun ini woi!*

Lalu terkenang sekelebat adegan-adegan yang udah saya alamin selama 2017. Semua yang saya inginkan tercapai. Saya bisa lulus dari tempat menuntut ilmu. Baru lulus langsung dapet kerja di perusahaan yang ada hubungannya dengan hobby dan kecintaan menulis, punya pacar yang perhatian dan selalu ada.

Sangat-sangat bersyukur.

Di tahun ini saya menantang diri untuk mengurangi sosial media dan menggapai mimpi yang belom-belom dari dulu. Apakah saya akan berhasil?


Jadi updatenya kali ini saya sudah keluar dari perusahan media yang logonya gak saya suka itu loohhh. Saat ini posisi sudah di Jakarta kembali Puji Tuhan :') Jadi inget dulu janji sama Popohenjeng kalau bakal balik ke kota ini lagi. Delapan tahun kemudia saya kembali, mereka yang udah pada mencar :')) Satu di London, satu di Kanada, satu jadi artis dan punya pacar Putri Indonesia, yang satu tinggal tetep di Bintaro. Tapi kayaknya semuanya udah berubah. Udah beda aja...oh betapa menyebalkannya menjadi tua dan semua orang berubah, tapi di sini enggak :' saya, dengan semua memori yang dipeluk erat-erat.

Eniwei, ngomong-ngomong kantor yang kmaren, dapet banyak pelajaran dan kado di sana. Tapi dari semua, yang paling bikin saya respect di sana adalah seorang yang bernama Ko Jeff. Walau jarang ketemu dan beda tempat, tapi dari komunikasi singkat saya bisa merasa kalau dia orang baik. Jadi waktu itu saya salah, lalu ditegur, tapi tegurannya itu gak marah-marah. Dia bisa membuat kalimat yang akhirnya membuat saya berpikir kalau yang saya buat (untuk Instagram waktu itu) salah. Senang rasanya dikoreksi seperti itu. Saya ingat beberapa waktu lalu pernah juga dia yang salah, dengan instruksi untuk mengganti dp sosmed. Lalu melalui wa grup ia meminta maaf. Saya suka atasan yang bisa minta maaf ketika dia salah, dan bukannya acuh tak acuh, apalagi menyalahkan orang lain sebagai tumbalnya. Saya salut dia mengakui itu kesalahannya dan meminta maaf di grup. Bener-bener respect.

Nah, tapi...........yang saya baru tau waktu hari perpisahan, dia adalah orang yang menggambar logo perusahaan kuning meligker-lingker yang saya gak suka ituuuuuuuuuu hahahhahha! itu dia!

Ya sudah, daripada menanggung malu, mending saya


tapi, yang tahu saya ngefans dengan Ko Jeff tadi, cuma Rima. Partner saya yang cuma sebulan tapi gilanya kita cocok banget 💗

Kalau dia baca ini, biarlah ini menjadi rahasia untuk kita berdua sajo. Ihik ihik ihik. Itu aja sih update untuk blog kali ini. Maaf udah ninggalin cukup lama blogku sayang..*bersihin sarang laba-laba di blog* 

Yuk kita mulai lagi sekarang dari awal, shall we?😉






















Share:

Senin, 30 Oktober 2017

Teruntuk Leader Kece Nan Baik Hati

Ini kayaknya pertama kali saya nulis blog buat atasan hahahhah.
Jadi begini, sebenernya orang ini pernah muncul dalam blog ini tapi gak ada namanya, yaitu waktu pertama kali saya diinterview di tempat ini. Kenapa sampai harus repot-repot nulis diblog? karena sebenernya saya merasa dia leader yang hebat dan terlalu banyak yang bisa saya sampein di hari terakhir dia masuk kantor sebelum akhirnya berpindah di tempat lain jadi mending tulis diblog.

Saya baru lima bulan di sini. Tapi gak butuh waktu lama untuk kenal dia. Dari awal wawancara, dia tau saya Advent dan saya gak bisa masuk hari sabtu, tapi yang dia bilang selanjutnya bukannya 'maaf kita gak ada toleransi untuk itu' atau kalimat lain yang biasanya diucapkan perusahaan yang udah nolak saya. yang dia bilang malah

"Menarik..saya tertarik pingin tau lebih maksud ibadahnya itu gimana."  Dia juga ikut nyari solusi untuk saya tetep bisa masuk yaitu dengan gak masuk hari sabtu tapi saya masuk hari minggu yang akhirnya menjadi deal.

Ada beberapa kejadian yang saya nilai ini baru Leader, dan walaupun dia lebih muda dari saya setahun, tapi itu gak mengurangi rasa hormat saya ke dia sebagai leader team sosmed. Karena tindakan dia yang buat saya respect.

Waktu baru-baru awal buat konten instagram, saya pernah salah dengan menbuat design warna kuning dengan gambar pisang di dalamnya. Temanya tentang makanan waktu itu. Lalu dia dateng dan bilang

"Loh? itu kuning semua Mbak Er?"
saya dengan polosnya jawab "Iya kan tentang pisang." tapi ada penekanan di nada saya sedikit. Antara takut salah dan gak mau dikoreksi.
"Ooo.. " Dia cuma jawab gitu trus melengos pergi.

Belakangan saya tau dari partner saya kalau ternyata warna design gak boleh ngeblok satu warna dan kalau bisa ada warna yang diambil dari logo. Sedangkan logo kita pink dan kuning jauh dari itu.

Itu kejadian pertama. Kedua waktu itu saya sempet ngedrop dan flu berat. Bersin gak abis-abis. Tisu dimana-mana. Besoknya, gantian dia yang flu, dia pake masker, dan bawa masker lebih. Saya yang waktu itu masih flu ditawarin masker sama dia. Trus di bawah kolongnya ada plastik isi tisu-tisu bekasnya. Dari situ saya ngerti, 'oooo harusnya diplastikin'. Saya ngerti bukan karena dia ngasih tau verbal dan berlagak superior, tapi emang dia contohin. Itu sih yang buat saya respect. Belum lagi nada bicaranya selalu rendah. Again, banyak yang bisa saya pelajari dari dia meskipun dia lebih muda dari saya. Dan banyak kejadian lain yang kecil-kecil kayak gimana dia selalu nyatuin anak-anak yang lain, gak ada yang dianakemasin semua harus baur, semua nyatu.

Walaupun setiap orang pasti ada kekurangannya, mungkin dulu saya sempat kesal karena balesan smsnya untuk panggilan kerja terlalu lama, tapi sekarang saya paham, itu semua karena terlalu banyak tugas yang dia pegang, sampai-sampai untuk respons kayak gitu-gitu bakal slow. Jadi sekarang saya maklum.

Waktu makan siang terakhir jumat kemarin bareng Pak Jeff, beliau sempat ngomong kalau dia (Mas Cakra) bakal jadi orang sukses. Karena sikapnya yang mampu tenang meski di bawah tekanan. Dan paling mengejutkan, Pak Jeff bilang kalau dia sering membela nama-nama anaknya yang kena masalah, yang mana Pak Jeff mengakui dia belum sampai situ. Saya jadi bertanya-tanya ada nama saya juga kah? dan gak ada yang tau omelan apa dari atasan yang dia sebagai tamengnya.

Makasih kerja samanya walau dalam waktu singkat ini Mas Cakra, dan terima kasih udah mempercayakan posisi ini ke saya. Walaupun pasti banyak yang nanya atau protes aku bisa libur setiap hari Sabtu. Sukses di tempat barunya..
Farewell









































Share:

Kamis, 21 September 2017

Review Buku: Ikan Ikan Mati

Udah lumayan lama saya gak baca buku karangan kawan lama ini. Dan untuk pertama kalinya, (sepertinya iya ini pertama kalinya) saya review buku di blog ini. Sebelum-sebelumnya film. Oke, lanjut.. Jadi, buku ini menceritakan tentang Gilang yang bertemu kembali dengan Citra, gebetannya waktu SMA. Yang menarik di sini adalah si penulis (Roy Saputra) mengambil posisi sebagai orang ketiga maha tau. Jadi kita yang membaca bisa ikut merasakan perasaan keduanya. Saya jadi ikutan malu-malu saat mereka berdua diceritakan sedang bersama. Tapi tenang buku ini isinya bukan tentang cinta-cintaan doang kok.


Dibandingkan dengan buku sebelum-sebelumnya, ada peningkatan dari segi banyaknya halaman. Jelas berarti semakin kaya kosa kata yang bertambah dari si penulis. Saya suka beberapa kata yang belum pernah saya temui sebelumnya jadi tau artinya juga lewat footnote yang pasti nambahinnya PR juga itu. Salut sih sama deteilnya. Untuk settingan waktunya sendiri sangat original karena menggambarkan Indonesia belasan tahun ke depan dengan kecanggihannya. Hanya di sini beberapa kali saya agak bingung mungkin karena terlalu canggih itu tadi. Kerasa sisipan teknologi ini masih belum terlalu matang tapi lumayan untuk ide seoriginal itu. 

Kemasan bahasanya seperti biasa beberapa bisa buat saya ketawa spontan. Sampe ngakak. Untuk pendalaman karakter yang lumayan banyak, karena si Gilang ini punya geng sirkus di kantor yang logat bahasanya juga beda-beda. Beberapa di awal baca waktu pengenalan karakter kebayang, tapi kebelakang-belakang gak kebayang. Mungkin juga udah semakin dalem ke kasus utama.

Alur ceritanya lambat tapi pasti. Kita diajak ikut mikir juga ikut memilih. Tapi untung pilihan Gilang sesuai dengan yang kita harapkan :))) yang pasti waktu baca buku ini buat kamu juga menemukan beberapa kemiripan dengan dirimu sendiri.

iya kan, ikan-ikan mati?



Share:

Senin, 04 September 2017

Kerja Lagi!

Dulu waktu masih sekolah di Jakarta, yaa sekitar SMP lah. Sering banget liat sticker kuning dengan huruf melingker-lingker yang norak. Waktu itu sih.... itu yang ada dalem pikiran saya setiap liat sticker itu di angkot.

"Apaan sih ini maksudnya?" 
"Kok tulisannya jelek banget."
"Ini web ya? ada dotcom nya."
"Warnanya kuning lagi. Norak!"
"Fontnya jenis apaan itu melingker-lingker, Norak!"

14 tahun kemudian saya bekerja di perusahaan itu.

Ya, hari ini saya telah bergabung dengan perusahaan yang telah berkembang pesat dari 2003 tersebut. 

Lucu memang, waktu interview saya teringat kembali masa-masa melihat sticker itu di angkot dulu di Jakarta. Antara malu dan ingin jedotin pala ke kaca ruang tempat saya diinterview. Tapi, yang membuat saya akhirnya terus maju adalah perusahaan ini telah mengganti logo perusahaannya. Dan logo yang kali ini saya suka.

Ya, saya sereceh itu.

Maaf untuk pembuat logo yang awal, bukannya saya menjelek-jelekan, emang saya gak suka aja liatnya. Eh tapi ini membuktikan kalau kerja keras gak membohongi logo hasil. Walaupun logonya begitu, perusahaan ini tetap berkembang pesat. Ya walaupun saat ini logonya telah diganti. Tapi kan itu diganti setelah sukses. Hal ini membuktikan mungkin bagi orang lain logo yang dulu itu tidak masalah, saya aja yang lebay. Dan buktinya dengan logo yang dulu mereka bisa sukses.

Eniwei, lupakan masalah logo.

Saat ini saya sudah 3 bulan bekerja di sana. Ciee. Dulu saya pikir di Malang ini gak ada apa-apanya. Kantor-kantor yang ada juga gak yang wow banget. Dan saya pikir, kantor web ini di Jakarta (ya emang ada sih di Jakarta) tapi maksudnya kirain cuma satu ya yang di Jakarta itu. Ternyata justru pusat menulisnya di Malang!

Saya baru tau dari temen-temen ex Polimoli Indra dan Winda, kalau kantor media tempat saya kerja ini di Malang. Malahan setelah keluar dari Polimoli, Indra melamar kerja di sana dan keterima. Winda juga bekerja di media online yang populer di kota ini.

Nah, saya tau lamaran kerja di kantor ini justru bukan dari Indra. Seperti biasa, Twitter. Dan saya gak ngasih tau anak dua itu kalau saya melamar ke media online. Sampai akhirnya saya dipanggil untuk wawancara. Setelah proses iterview yang alot beserta nego tentang Hari Sabat, akhirnya saya bekerja di tempat yang sama kayak Indra :))



Awalnya masuk ke kantor ini berat buat saya. Karena terus terang, saya gak pernah kerja dengan orang-orang kreatif sebanyak itu. Paling banter 3 orang. Dan terakhir bekerja dengan ratusan orang satu ruangan, tiap orang ada sekatnya. Ini engga, jadi kalau jalan masuk ke meja serasa catwalk. Karena semua mata tertuju pada orang yang sedang berjalan. 


Kenapa sih milih media sosial lagi? padahal kan lulusan perbankan? banyak yang nanya gitu. Jauh. Gelar dengan hobby :)) tapi saya udah pernah tiga kali kerja di bank dua kali di media sosial sama yang sekarang. Dan saya akui saya menyukai keduanya. Saya suka kerja di bank, saya juga suka kerja di sini. Waktu itu juga saya menaruh lamaran di bank. Andai saja waktu itu bank tersebut memanggil saya terlebih dahulu, mungkin saya gak di sini sekarang :)
--------------------------------------------------------------------------------------

UPDATE:

Lupa nyeritain, sebenernya saya keterima di Sri Wijaya Air, bagian MT. Tapi, hari Sabtu masuk. Sedangkan seperti yang udah pernah saya ceritain, tentu gak akan saya terima. Udah dipertahankan dengan segala cara termasuk tawaran untuk masuk hari minggu seperti yang saya lakukan pada perusahaan sekarang, tapi ternyata beliau yang mewawancarai saya saat itu bilang kalau mereka hanya bisa toleran pada Sholat Jumat. Titik. Jadi saya lepas aja kerjaan yang tawaran di awalnya aja 8 juta itu.

:))) 
Share: